MRATODI: informasi

What i can share, i share

Tampilkan postingan dengan label informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label informasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juni 06, 2020

Mengintip kondisi psikologis individu dari perilakunya di Whatsapp

Sabtu, Juni 06, 2020 2
Mengintip kondisi psikologis individu dari perilakunya di Whatsapp
Jika dahulu, gejala perilaku individu dapat dibaca melalui tulisan atau tanda tangan, maka di era digital ini ternyata kondisi psikologis seseorang dapat dibaca melalui pola perilaku dan kebiasaannya di media sosial, khususnya Whatsapp. Apa saja yang bisa kita pelajari? ini dia daftarnya
Sumber gambar: liveMint
  • Jika seseorang membalas chat anda hanya dengan menggunakan emotikon atau stiker tanpa kata-kata, besar kemungkinan menandakan yang bersangkutan ingin mengakhiri chat dengan anda. Whatsapp sendiri telah terbukti menjadi platform yang dianggap paling memadai berkenaan kemampuannya untuk memfasilitasi ekspresi negatif1.
  • Penggunaan emoticon BELUM TENTU mewakili perasaan yang sesungguhnya. Misal saat chat lawan bicara anda mengirimkan emoticon "Tertawa Ngakak", maka belum tentu ekspersi aslinya seperti itu. Mungkin saja partner chat anda mencoba menghargai guyonan anda misalnya. Dampak negatif dari penggunaan emotikon sendiri menurut penelitian diantaranya adalah kemampuannya untuk memicu permasalahan seputar interaksi sosial hingga spritual, apalagi jika digunakan secara berlebihan dan tidak pada konteksnya2. Dan tahukah anda, ternyata wanita cenderung lebih sering menggunakan emotikon dibandingkan pria lho3.
  • Orang-orang yang jarang memakai foto profil, atau tiba-tiba menghapus foto profil, bisa jadi dia sedang dalam kondisi tertimpa masalah dikehidupan nyatanya, atau mungkin tipe "tertutup", menjunjung tinggi sense of privacy, serta lebih nyaman dan secure dengan kondisi tanpa foto profil. Hal ini diperkuat dengan penelitian di tahun 2018  yang menyatakan adanya hubungan antara tampilan foto profil Whatsapp dengan perilaku dan sifat penggunanya4.
  • Ketika seseorang sedang menarik perhatian orang lain, umumnya hanya membagikan status kepada orang yang itu saja. Perilaku ini yang oleh Wee dan Lee disebut sebagai “seeking continued conctact”, dimana sesorang akan memutuskan siapa saja yang dalam kontaknya yang dirasa intim dan dapat memasuki ranah interaksi terbatasnya5.
  • Individu yang menggunakan foto profil dengan filter black and white, atau yang terkesan gelap biasanya sedang berusaha menggambarkan kondisi perasaannya saat itu. Orang yang seperti itu biasanya memiliki beban emosional yang besar. Kombinasi warna tersebut sering diasosiasikan dengan kedukaan atau rasa bersedih6.
  • Tanda seseorang tidak menyukai chat dari anda, biasanya hanya mebalas dengan singkat seperti "hmmm, ya, Ok atau bahkan hanya di read saja. Tapi bisa saja yang bersangkutan dalam kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan untuk typing terlalu panjang. Jadi berpikir positif lah, sekaligus tahu diri..hehehe
 
So, ada yang mau ditambahkan? feel free to add in the comment box
Referensi
  1. Waterloo, S. F., Baumgartner, S. E., Peter, J. & Valkenburg, P. M. Norms of online expressions of emotion: Comparing Facebook, Twitter, Instagram, and WhatsApp. New Media Soc. 20, 1813–1831 (2018).
  2. Yuan, Y. & Li, Z. The Positive and Negative Functions of Emoticons. Can. Soc. Sci. 15, 83–88 (2019).
  3. Al Rashdi, F. Forms And Functions Of Emojis In Whatsapp Interaction Among Omanis. Georgetown University-Graduate School of Arts & Sciences (Georgetown University, 2015).
  4. Ap, A., Shah, K., Thomas, A. & Shrivastava, M. Users’ Personality Traits Profiling based on their WhatsApp Display Pictures. J. Contemp. Trends Bussiness Inf. Technol. 4, 48–59 (2018).
  5. Wee, J. & Lee, J. With whom do you feel most intimate?: Exploring the quality of Facebook friendships in relation to similarities and interaction behaviors. PLoS ONE 12, (2017).
  6. Kaya, N. Relationship Between Color and Emotion: A Study of College Students. Coll. Stud. J. 38, 396–405 (2004).

Jumat, Mei 08, 2020

Jalan masih panjang: Sekelumit kondisi jurnal bidang Arsitektur di Indonesia

Jumat, Mei 08, 2020 0
Jalan masih panjang: Sekelumit kondisi jurnal bidang Arsitektur di Indonesia
Ba'da taraweh tiba2 muncul pikiran kepo saya terhadap kondisi jurnal-jurnal Arsitektur di Indonesia. Feeling awal saya berkata bahwa jurnal bidang Arsitektur perkembangannya tidak se "Wow" bidang sains dan teknologi lainnya. Jadi mulailah pelacakan saya, melalui browsing tentunya. Dari laman SINTA, dengan menggnakan kata kunci "Arsitektur" pada pencarian department menunjukkan lebih dari 200 jurusan/prodi/department arsitektur di seluruh Indonesia (http://sinta.ristekbrin.go.id/departments/index?page=1&q=arsitektur&search=1). Untuk data jurnalnya sendiri sumber infonya saya ambil dari laman APTARI dan APTARI. Walhasil ketemu setidaknya 64 jurnal Arsitektur seluruh Indonesia. Dari data tersebut, diperoleh potret sebaran status akreditasinya, dibandingkan dgn copyright, lisensi dan APC dari jurnal-jurnal Arsitekturnya




Dan kesimpulan awalnya, masih banyak sekali jurnal di bidang arsitektur yang belum terakreditasi, belum mencantumkan kebijakan hak cipta dan lisensi di lamannya,. walaupun mayoritas jurnal arsitektur free atau tidak menarik bayaran ke calon penulisnya

Kemudian dengan bantuan rekan, saya Cak Khalid, kami identifikasi kata kunci yang sering digunakan pada artikel-artikel bidang arsitektur di Indonesia, datanya sendiri kami tarik dari database DOAJ. Kenapa DOAJ? karena saat ini hanya DOAJ yang menyediakan metadatanya diunduh secara bebas. Tapi kelemahannya masih sedikit jurnal Arsitektur di Indonesia yang terindeks DOAJ. Kedepannya, kami akan coba tarik data dari Crossref yang saya yakin perbendahaaraan datanya lebih banyak. Aniway, ini tampilannya wordclud kata kuncinya
sumber: DOAJ, 2020





Jadi apa yang dapat disimpulkan???

Selasa, November 20, 2018

Kenapa Kita Harus Mulai Mengutip Data?

Selasa, November 20, 2018 0
Kenapa Kita Harus Mulai Mengutip Data?
Kutipan, sebuah kata yang sangat familiar bagi para dosen ataupun peneliti yang selalu berkutat dalam penulisan karya ilmiah. Umumnya saat mengutip, peneliti cenderung mengutip hasil atau pendapat dari penelitian sebelumnya. Tren yang berkembang saat ini telah bergeser, dari mengutip hasil penelitian menjadi mengutip data penelitian. Oleh karenanya muncul istilah Data Citation (Kutipan Data). Bagi beberapa orang mungkin sudah familiar dengan konsep Kutipan Data ini, tapi saya yakin banyak orang yang belum mafhum dan terbiasa menerapkannya (termasuk saya).
Numbered Notes, (C) Denise Chan via Flicker, CC BY-SA
Kutipan Data sendiri dipandang sebagai salah satu cara paling penting untuk menetapkan data sebagai output ilmiah yang paling penting. Penerapan Kutipan Data yang mulai berkembang dalam penerbitan artikel ilmiah dan jenis konten lainnya serta membangun jejaring publikasi dengan melakukan tautan-tautan antar sekumpulan data (datasets).

Secara global, upaya terkait pengutipan data bukanlah suatu hal baru. Salah satu inisiatif berskala besar pertama dalam menetapkan Kutipan Data sebagai standar praktik akademis adalah melalui FORCE11 Joint Declaration of Data Citation Principles (JDDCP) pada tahun 2014. Deklarasi tersebut didukung oleh lebih dari 100 organisasi dalam komunitas ilmiah.

Setelah deklarasi tersebut, banyak proyek yang diikuti inisiatif tersebut. FORCE11, dengan salah satu pilot project mereka dalam penerapan Kutipan Data, mengajak para penerbit dan repositori untuk menjadikan Kutipan Data sebagai bagian dari alur proses bisnis mereka serta menerapkan prinsip-prinsip JDDCP. Dalam lingkup Aliansi Data Penelitian (Research Data Alliance), Scholix menjadi kelompok pertama yang mebuat kerangka kerja pertukaran informasi terkait hubungan antara artikel dan dataset. Infrastruktur mereka saat ini merambah ke proyek-proyek seperti Make Data Count dan Enabling FAIR Data,

Kenapa Kutipan Data penting bagi perkembangan Sains?

Setidaknya terdapat tiga alasan penting, yakni:

1. Transparansi dan reproduktifitas
Sebagian besar hasil karya ilmiah yang dipublikasikan saat ini hanyalah berupa ringkasan dari apa yang peneliti lakukan dan temukan. Data yang mendasarinya tidak tersedia, sehingga sulit untuk memverifikasi dan mereplikasi hasil. Jika data selalu tersedia dengan publikasi, transparansi penelitian akan sangat meningkat.

2.Penggunaan Kembali (reuse)
Ketersediaan data mentah memungkinkan peneliti lain untuk menggunakan kembali data. Bukan hanya untuk tujuan replikasi, tetapi untuk menjawab pertanyaan penelitian baru.

3.Penghargaan
Ketika peneliti mengutip data yang mereka gunakan, hal tersebut membentuk sebuah landasan bagi pembentukan sistem penghargaan terhadap data. Saat ini para peneliti tidak benar-benar mendapat keuntungan ketika harus berbagi data mereka, karena tidak ada yang melihat data metrik dan mengukur dampaknya. Kutipan Data adalah langkah pertama menuju perubahan menuju sistem penghargaan terhadap data.

O ya, sudah banyak situs penyedia layanan open data saat ini, diantaranya adalah Data Cite dan figshare. Saya sudah mencoba mebagikan data di fighshare terkait hasil pengukuran kualitas air sungan di Banjarmasin yang bisa di lihat disini.

Disadur ulang dan diterjemahkan secara bebas dari: Data citation: let’s do this - https://www.crossref.org/blog/data-citation-lets-do-this/ dan Why Data Citation matters to publishers and data repositories - https://www.crossref.org/blog/why-data-citation-matters-to-publishers-and-data-repositories/

Jumat, Mei 13, 2016

MASJID JAMI BAIT UR ROUF: PENDEKATAN ARSITEKTURAL UNTUK MEMAKMURKAN MASJID

Jumat, Mei 13, 2016 3
MASJID JAMI BAIT UR ROUF: PENDEKATAN ARSITEKTURAL UNTUK MEMAKMURKAN MASJID

Islam telah menganjurkan umatnya untuk memakmurkan masjid. Terminologi memakmurkan masjid menurut pemahaman awam saya ialah memaknai sebagai upaya “menghidupkan” geliat aktivitas umat, tidak sekedar aktivitas ibadah tetapi aktivitas sosial edukasi dan ekonomi kemasyarakatan, dan menekan pada aspek kualitas masjid lebih dari sekedar kuantitas masjid.

Dari sisi pengelolaan masjid berbagai cara dapat dilakukan untuk memakmurkan masjid, contohnya adalah Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Tapi bagaimana dari sisi Arsitektur? Menjadi tantangan bagi para arsitek adalah menghasilkan rancangan masjid dengan atmosfer yang mendukung setiap jenis dan fungsi kegiatan yang ada pada masjid itu sendiri serta berkontribusi terhadap usaha pemakmuran masjid. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana jalur mekanismenya? Pertanyaan ini sedikit tercerahkan saat saya melihat sebuah postingan di wall Facebook saya mengenai sebuah Masjid.

Adapun Masjid Jami Bait Ur Rouf yang terletak di distrik Faidabad Uttara, Kota Dhakka, Bangladesh yang menarik perhatian saya. Dirancang oleh seorang arsitek wanita bernama Marina Tabassum masjid ini yang terletak pada lahan seluas 7200 meter persegi ini menjadi salah satu karya arsitektur yang dinominasikan mendapatkan penghargaan Aga Khan Award.

tampak eksterior Masjid Jami Bait Ur Rouf
Pada masjid yang selesai dibangun pada tahun 2010 yang lalu ini tidak akan ditemukan kubah dan minareth layaknya pada masjid kebanyakan. Selain itu sang Arsitek sendiri menghindari penggunaan simbol agar ruang masjid tidak hanya digunakan sebagai sholat, tapi dapat digunakan untuk aktivitas sosial kemasyarakatan bagi jama’ahnya. Pemanfaatan cahaya dan banyak bukaan memungkinkan bangunan ini “bernafas” secara alami.

Karenanya masjid ini dianggap sebagai masjid yang ramah terhadap lingkungan. Lubang-lubang kecil pada bagian atap selain berfungsi sebagai sarana memasukkan cahaya ke dalam ruangan dan sirkulasi udara, juga mampu menciptakan kesan dinamis yang tidak monoton dengan permainan bayangan akibat pergerakan matahari yang tentunya sudah di perhitungan oleh sang arsitek.

suasana interior Masjid Jami Bait Ur Rouf
Denah Masjid Jami Bait Ur Rouf
Sang arsitek juga sangat menekan aspek spiritualism pada karya arsitekturalnya. Akses masuk ke ruang sholat dicapai dengan melalui semacam labirin yang dimaknai sebagai usaha untuk meninggalkan segala aspek keduniaan beserta hiruk pikuknya sebelum mencapai ruang utama. Ruang-ruang pada pada masjid Jami Bait Ur Rouf ini dirancangkan untuk menciptakan sense of high concentration, atau dengan istilah lain ke khusu’an.

Photocredit: Hasan Saifuddin Chandan

Jumat, April 29, 2016

GOVIRAL : SAAT PENGGUNA SOCIAL MEDIA MENJADI SENJATA PROMOSI DIGITAL

Jumat, April 29, 2016 6
GOVIRAL : SAAT PENGGUNA SOCIAL MEDIA MENJADI SENJATA PROMOSI DIGITAL

Ketika iseng-iseng mantengin timeline twitter saya, perhatian saya sempat tertuju kepada salah satu tweet kawan tentang GoViral. Sesaat yang terlintas dipikiran apakah ini salah satu bentuk layanan baru GOJEK untuk pemasangan alat kontrasepsi online? (viral tod..VIRAL…bukan SPIRAL #ditampolemak2)

So, coba ngulik lebih dalam ternyata GoViral ini salah satu layanan media promosi digital yang dengan memanfaatkan jaringan influencer yang tersebar melalui semua sosial media. Dengan metode promosi dan beriklan yang baru, diharapkan dapat membantu meningkat penjualan pengiklan atau brand di era perkembangan teknologi informasi sekarang ini.

Dengan memanfaatkan jumlah pengguna media sosial yang bejibun jumlahnya (dalam hal ini twitter) GoViral mencoba mengembangkan strategi pemasaran berbasis jaringan sosial media dan me-monetize jaringan follower yang kita miliki.

Simplenya, kalo kita join di GoViral sebagai Buzzer, maka setiap kali ada produk yang ditawarkan untuk dipromosikan lewat cuitan kita di timeline, maka Tweet kita tentang produknya bakal diganjar dengan komisi yang akan dibayar oleh GoViral. 

Tapi bukannya bisnis model begini cocoknya buat para selebtweet yang followernya ribuan? 

Ternyata belom tentu sodarah-sodarah… Walaupun jumlah follower kita seuprit dan ga banyak2 mekanisme komisinya tetep sama. Masalah komisi ini sebenarnya saya pribadi ga tau seberapa jumlah pastinya, lha wong baru tau ada macam beginian tadi siang...Cuma ya itu tadi, wong gratis aja kok daftarnya dan ga ribet mekanismenya (menurut saya)

O ya selain Buzzer, kalo kamu punya produk atau brand yang mau diviralkan bisa juga gabung sebagai advertiser (kalo ga salah namanya gitu deh…), tapi saya sendiri kurang paham mekanismenya seperti apa…

Well, zaman emang berkembang pesat..Ga jamannya lagi orang pasang iklan via koran, majalah atau tabloid dengan menggunakan jasa-jasa agensi iklan. Kini zamannya kekuatan social media citizen yang berbicara. Entah inovasi apalagi yang muncul 10 atau 20 tahun kedepan saat anak-anak saya beranjak dewasa nanti.. 

Udah ah, kalo sekedar mo tau lebih lanjut atau bahkan tertarik join silahkan cek aja ke websitenya langsung di www.goviral.co.id ya..
note : 
  1. Selain via Twitter, ternyata GoViral ini juga mengakomodir platform social media lainnya seperti Facebook, Instagram, Path bahkan Blogspot.
  2. Saya masih belum tau pasti gimana kedudukannya dari sudut pandang MUI. Mungkin ada dari sohibloggers yang bisa kasi infonya ke saya? please..

sumber gambar disini

Kamis, April 28, 2016

ARSITEKTUR SAINS BERUBAH: BAGAIMANA INDONESIA MENGHADAPINYA?

Kamis, April 28, 2016 0
ARSITEKTUR SAINS BERUBAH: BAGAIMANA INDONESIA MENGHADAPINYA?
Arsitektur sains dunia berubah pesat. Spesialisasi keilmuan makin menyempit, namun batas antar disiplin ilmu pengetahuan kian kabur. Lahirlah berbagai bidang keilmuan baru dan maraklah penelitian lintas disiplin untuk menjawab tantangan di masyarakat. Tantangan dalam sains kini berubah seraya mempengaruhi perkembangan intelektualitas, sosial, dan, budaya. Namun di tengah perubahan itu, Indonesia masih bergelut dengan rendahnya budaya ilmiah. Siap tak siap, Indonesia yang masih mencari pola pengembangan sainsnya, harus menghadapi perubahan itu.

Di negara yang belia, sains terpaksa mengalah ketika berhadapan dengan pemikiran politik dan ekonomi yang mendominasi panggung nasional. Suka atau tidak, kendati pemecahan berbagai masalah yang dialami manusia membutuhkan pengamatan sains, pencarian karakteristik khas Indonesia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan tersisihkan. Padahal pengembangan sains sangat penting. Metode penelitian ilmiah senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan zaman, demi meningkatkan kemampuan sains dalam memahami fenomena alam, fenomena sosial, serta mengembangkan solusi yang bermanfaat bagi manusia dan alam semesta. Namun enam dasawarsa berselang, saat Indonesia sibuk mencari cara mengembangkan ilmu pengetahuan di dalam negeri, arsitektur sains dunia berubah, seraya mempengaruhi perkembangan intelektualitas, sosial, dan budaya. Ilmu pengetahuan semakin terspesialisasi, tapi batas antar disiplin ilmu kian kabur.

Kenyataannya, penemuan penting saat ini sebagian besar dihasilkan dari penelitian multidisiplin. Perkembangan teknologi dan media sosial membuat data yang sebelumnya harus dicari untuk membuktikan hipotesis ilmuwan, kini tersedia dalam jumlah besar, hampir tak terbatas. Ilmuwan di era ini malah ditantang untuk memanfaatkan big data: mencari makna yang tersembunyi dalam ribuan terabyte data hasil kicauan manusia di dunia maya. Bagaimana memanfaatkan lautan data ini untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia?

Perlu disadari, ketika begitu banyak masalah mendesak untuk dipecahkan, budaya ilmiah dan pendidikan di Indonesia masih lemah, sehingga sains juga belum banyak dimanfaatkan untuk perumusan kebijakan publik. Kebijakan dan program apa saja yang dibutuhkan untuk meningkatkan budaya ilmiah dan penguatan penelitian? Bagaimana mendorong produksi sains untuk memacu kemampuan dalam kompetisi global, misalnya dalam penguasaan teknologi strategis? Bagaimana mengurangi birokratisasi dalam pengelolaan sains dan penelitian? Bagaimana membuat kebijakan publik berdasarkan pertimbangan sains, tak semata berdasarkan kepentingan politik maupun ekonomi jangka pendek?

Sains di Indonesia minim produktivitas, sepi dari publikasi dan paten. Sementara itu di tataran sosial, pengetahuan juga belum banyak terserap dan dimanfaatkan untuk masyarakat. Kedua masalah ini berakar pada sistem dan institusi dalam produksi pengetahuan di Indonesia, yang turut dipengaruhi kondisi sosial dan politik. Masalahnya, bagaimana sains berinteraksi dengan berbagai kelompok sosial dalam masyarakat? Jika secara epistemologi pengetahuan yang valid dibangun melalui metodologi, asumsi, serta pertanyaan ilmiah, sistem epistemologi seperti apa yang dapat mengembangkan sains dan meminimalkan sekat antardisiplin dalam konteks Indonesia? 
 
sumber tulisan dan hak intelektual dari sini dan bukan untuk kepentingan komersial

SEKILAS TENTANG DETERMINAN KOTA SEHAT

Kamis, April 28, 2016 0
SEKILAS TENTANG DETERMINAN KOTA SEHAT
Kota yang sehat merupakan cerminan dari kepedulian segenap perangkatnya serta warganya terhadap derajat kesehatan individu dan masyarakat. Konsep Kota Sehat sendiri bukan merupakan hal yang baru di Indonesia, mengingat pada periode tahun 1990-an Indonesia telah meluncurkan program Kota/Kabupaten Sehat yang mengacu pada Program Kerja Badan Kesehatan Dunia (WHO). Akan tetapi sampai dengan saat ini, terlepas dari berbagai macam penghargaan Pemerintah terhadap Kota/Kabupaten Sehat, tidak ada satupun kota di Indonesia yang masuk ke dalam 50 besar Kota Sehat di Dunia. Di tambah fakta bahwa di lapangan Kota/Kabupaten yang menyabet gelar Kota/Kabupaten Sehat yang diberikan oleh pemerintah masih menyisakan berbagai permasalah pelik seputar kota dan kesehatannya.

Permasalahan utama dan mendasar dalam mewujudkan Kota Sehat di Indonesia adalah belum dipahaminya secara komprehensif tentang konsep dan kriteria kota sehat itu sendiri. Selain itu dengan kata “sehat” yang mengikuti kata “kota” maka diasumsikan bahwa yang menjadi tanggung jawab mewujudkan kota sehat adalah sektor kesehatan. Pola pikir sektoral dan dikotomi inilah yang menjadi blunder dalam mewujudkan kota sehat di Kota/Kabupaten Indonesia, padahal jika kita cermati setidaknya terdapat 10 faktor determinan terkait kriteria kota sehat yang ranahnya tidak hanya pada otorisasi sektor kesehatan semata. 

Lingkungan Alami 
Walaupun efek emisi rumah kaca di dunia 70% diantaranya disumbang oleh daerah perkotaan, akan tetap dengan jejak karbon yang dihasilkan dapat dikurangi dengan mengembangkan strategi komprehensif terkait penataan lingkungan yang mampu meningkatkan proporsi ruang terbuka hijau, penerapan konsep Green Building serta sistem transportasi publik yang berwawasan lingkungan.

Lingkungan Binaan 
Ketersediaan infrastruktur sanitasi yang memadai, pengelolaan kepadatan bangunan yang baik, ruang terbuka hijau dan perancangan infrastruktur transportasi dapat memperbaiki kondisi fisik perkotaan yang pada akhirnya diyakini mampu membantu masyarakat untuk mewujudkan pola hidup sehatnya.

Perencanaan Kota 
Perencanaan kota yang efektif tidak terlepas dari upaya menciptakan kota yang sehat, mewujudkan kesetaraan akan hak dan akses publik, serta penerapan konsep pembangunan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan elemen estetik yang mampu mempromosikan kesehatan fisik dan mental sebagaimana kesejahteraan warganya itu sendiri.

Pendidikan 
Terkonsentrasinya populasi di wilayah perkotaan dapat menjadi faktor pendorong dalam upaya peningkatan akses sumber daya bidang pendidikan. Sebuah penelitian menyatakan bahwa pada setiap setiap peningkatan taraf pendidikan pada wanita usia produktif maka angka kematian anak menurun hingga mencapai hampir 10%.

Transportasi 
Sebagai urat nadi aktivitas perkotaan, transportasi menjadi faktor determinan terhadap terwujudnya kota sehat. Tersedianya sistem transportasi publik yang efektif, penataan akses jalan yang ramah, aman dan nyaman terhadap pejalan kaki dan pengguna sepeda mampu mendorong ke arah perbaikan derajat kesehatan masyarakat perkotaan melalui aktifitas fisik yang memadai. Selain itu penataan sistem transportasi yang baik akan berdampak kepada penurunan kasus kecelakaan lalulintas dan pejalan kaki yang juga diikuti dengan perbaikan kualitas udara seiring dengan menurunnya tingkat polusi udara.
sumber disini


Tata Kelola Pemerintahan 
Tata kelola pemerintahan yang kuat dan efektif menjadi hal yang krusial bagi kesehatan perkotaan, dengan disertai komitmen politik yang kuat dari segenap pemegang kebijakan dalam melakukan penilaian, baik terhadap risiko kesehatan maupun keuntungan dari setiap kebijakan, program dan investasi yang bersifat lintas sektoral. Pemerintah sepatutnya dituntut untuk mampu menciptakan koordinasi dan keterlibatan lintas sektoral yang aktif dan bersinergi terkait pemenuhan aspek-aspek kota sehat.

Ikatan dalam Masyarakat (Community Cohesion) 
Kesehatan individu sangat berkaitan erat dengan seberapa kuat ikatan kekeluargaan yang ada dilingkungan atau masyarakat dimana individu itu berdiam. Dalam sebuah masyarakat yang tingkat ikatan kekeluargaannya kuat maka jarang ditemui kejadian yang mengarah isolasi sosial bahkan malah dapat mendorong lebih besar keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan dan menciptakan pemerintahan yang inklusif. Ikatan dalam masyarakat dalam bentuk rasa kekeluargaan, rasa kebersamaan, gotong royong dan saling tenggang rasa menjadi modal sosial yang kuat dalam mewujudkan konsep kota sehat.

Konsumsi Energi 
Kepadatan yang tinggi di setiap perkotaan memunculkan berbagai peluang dan kesempatan unik dalam usaha mengembangkan strategi terkait efisiensi energi dalam hal transportasi, perumahan serta pengelolaan limbah yang dapat mengurangi konsumsi sumber daya dan energi tak terbarukan disepanjang masa-masa krisis energi yang terjadi seluruh penjuru negeri.

Perumahan  / Pemukiman
Akses terhadap hunian yang layak, terjangkau serta aman mampu menarik investasi ekonomi, tenaga kerja yang bervariasi serta meningkatkan tingkat sosial dan pembangunane konomi yang merata diikuti dengan menguatnya rasa kebersamaan di masyarakat perkotaan.
 
Pembangunan Ekonomi 
Kesehatan yang baik berhubungan dengan perkembangan ekonomi yang positif. Kota sebagai motor penggerak aktivitas perekonomian dengan ekonomi berbasis perkotaannya diperkirakan berkontribusi terhadap GNP (Gross National Product) hingga lebih dari 50% pada negara berpenghasilan rendah, 73% pada negara berpenghasilan menengah dan 85% pada negara berpenghasilan tinggi. Perkembangan ekonomi yang positif dapat dimaknai sebagai kemandirian ekonomi sebagai unsur dasar menciptakan kestabilan sosial di masyarakat dan modal dalam menjalankan setiap program dan kebijakan yang telah direncanakan.

sumber gambar disini
Creative Commons License
All posted materials by MRATODI.NET is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.